Hukum Hormat bendera Merah Putih Haram dan Musyrik? -->
Cari Berita

Advertisement

Hukum Hormat bendera Merah Putih Haram dan Musyrik?

Redaksi
Selasa, 16 Agustus 2022

illustrasi

 Assalaf.id - Kafirkah Hormat Bendera Merah Putih dan Menyanyikan Lagu Indonesia Raya?
Tidak ada dalil agama yang mengharamkan ekspresi cinta tanah air seperti hormat bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hal ini disampaikan oleh Syekh Wahbah Az-Zuhayli dalam kitabnya.


وأقول: إن الأغاني الوطنية أو الداعية إلى فضيلة، أو جهاد، لا مانع منها، بشرط عدم الاختلاط، وستر أجزاء المرأة ما عدا الوجه والكفين. وأما الأغاني المحرضة على الرذيلة فلا شك في حرمتها، حتى عند القائلين بإباحة الغناء، وعلى التخصيص منكرات الإذاعة والتلفاز الكثيرة في وقتنا الحاضر.
Artinya, “Saya bisa mengatakan, ‘Lagu-lagu kebangsaan, atau lagu-lagu yang memotivasi anak bangsa pada kemuliaan atau semangat perjuangan, tidak ada larangan (dalam agama) dengan syarat tidak campur baur laki-perempuan, dan (syarat lain) tutup tubuh perempuan selain wajah dan telapak tangan.
Sedangkan lagu-lagu yang mendorong orang pada akhlak tercela, jelas diharamkan sekalipun menurut ulama yang menyatakan kemubahan lagu dan nyanyian, terutama sekali (lagu-lagu yang mengandung) kemunkaran seperti ditayangkan stasiun radio dan televisi di zaman kita sekarang ini,’” (Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, cetakan kedua, 1985 M/1305, Beirut, Darul Fikr, juz III, halaman 576).


Juga telah ditegaskan dalam Kitab Fatwa Al-Azhar:


فَتَحِيَّةُ الْعَلَمِ بِالنَّشِيْدِ أَوِ الْإِشَارَةِ بِالْيَدِ فِى وَضْعِ مُعَيَّنٍ إِشْعَارٌ بِالْوَلَاءِ لِلْوَطَنِ وَالاْلِتْفِاَفِ حَوْلَ قِيَادَتِهِ وَالْحِرْصِ عَلَى حِمَايَتِهِ ، وَذَلِكَ لَا يَدْخُلُ فِى مَفْهُوْمِ الْعِبَادَةِ لَهُ ، فَلَيْسَ فِيْهَا صَلَاةٌ وَلَا ذِكْرٌ حَتَّى يُقَالَ : إِنَّهَا بِدْعَةٌ أوَ تَقَرُّبٌ إِلَى غَيْرِ اللهِ
Artinya: “Hormat bendera dengan lagu (kebangsaan) atau dengan isyarat tangan yang diletakkan di anggota tubuh tertentu (misalnya kepala) merupakan bentuk cinta negara, bersatu dalam kepemimpinannya dan komitmen menjaganya. Hal tersebut tidaklah masuk dalam kategori ibadah, karena di dalamnya tidak ada salat dan dzikir, sehingga dikatakan “ini perilaku bid’ah atau mendekatkan diri kepada selain Allah.” (Kitab Fatawa al-Azhar, X/221)


Kesimpulannya adalah Hukum hormat bendera dan Menyanyi lagu kebangsaan adalah mubah (boleh) karena tidak dikategorikan kedalam perbuatan yang mengagungkan makhluk setara dengan Allah SWT. Bahkan tatacara menghormati bendera tidak terdapat sisi kesamaan dengan bentuk ibadah kepada Allah, seperti sujud, ruku’ ataupun sedikit miring yang mendekati bentuk ruku’.


Dan hal ini tidak bisa dianggap sebagai perbuatan bid’ah munkarah karena eksistensi bendera sudah ada semenjak masa nabi ketika peperangan dimana para sahabat rela mati-matian membela bendera karena sebagai simbol mereka.


وكان النبي صلى الله عليه و سلم في مغازيه يدفع إلى رأس كل قبيلة لواء يقاتلون تحته
Artinya, “Rasulullah SAW dalam sejumlah peperangannya memberikan panji-panji(Bendera) kepada setiap pemimpin kabilah. Di bawah panji itu mereka berperang membela keadilan dan kedaulatan,” (Ibu Hajar Al-Asqalani, Kitab Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari, Beirut, Darul Ma’rifah, Tahun 1379, Juz 6, Halaman 127).


Dalam Hadits lain disebutkan


عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال قال النبي صلى الله عليه وسلم أخذ الراية زيد فأصيب ثم أخذها جعفر فأصيب ثم أخذها عبد الله بن رواحة فأصيب وإن عيني رسول الله صلى الله عليه وسلم لتذرفان ثم أخذها خالد بن الوليد من غير إمرة ففتح له
Artinya:, Dari Anas RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW menceritakan bagian dari perang Mu’tah, “Bendera perang dipegang oleh Zaid, lalu ia gugur. Bendera perang kemudian diambil alih oleh Ja‘far bin Abi Thalib, ia pun kemudian gugur. Bendera diraih oleh Abdullah bin Rawahah, ia pun gugur [sampai di sini kedua mata Rasulullah SAW berlinang air mata, kata Anas]. Bendera perang lalu diambil Khalid bin Walid dengan inisiatifnya. Ia maju menghantam pasukan musuh hingga mereka takluk di tangannya,” (HR Al-Bukhari).


Wallahu a’lamu ..