Tujuh Hal tentang Sayyidah Aisyah yang Jarang Diketahui -->
Cari Berita

Advertisement

Tujuh Hal tentang Sayyidah Aisyah yang Jarang Diketahui

Redaksi
Sabtu, 11 April 2020

Assalaf.id - Sayyidah Aisyah radhiyallau ‘anha adalah istri ketiga Nabi Muhammad SAW, setelah Sayyidah Khadijah radhiyallau ‘anha dan Sayyidah Saudah binti Zam’ah. Ayahnya adalah Sayyidina Abu Bakar bin Abu Quhafah, sementara ibunya Ummu Ruman. Ia dikenal sebagai orang yang cerdas, berwawasan luas, penuh cinta, dan banyak meriwayatkan hadits Nabi.

Sayyidah Aisyah merupakan satu-satunya gadis yang dinikahi Nabi Muhammad. Terjadi perbedaan pendapat di antara ulama mengenai usia pernikahan Sayyidah Aisyah. Ada yang berpendapat, usianya enam atau tujuh tahun ketika dinikahi dan 10 tahun saat diajak Nabi untuk berumah tangga.

Pendapat lain –yang didasarkan pada riwayat Abdurrahman bin Abu Abi Zannad dan Ibnu Hajar al-Asqalani- menyebutkan bahwa usia Sayyidah Aisyah ketika berumah tangga adalah 19 tahun atau 20 tahun.

Sayyidah Aisyah pernah menjadi korban hoaks (hadits al-ifki). Yakni, ia difitnah telah melakukan perselingkuhan dengan Shafwan ibn Muaththal. Kabar yang tidak benar itu cukup mengganggu rumah tangga Nabi Muhammad dan Sayyidah Aisyah. Kemudian Allah membela Sayyidah Aisyah dan meluruskan berita tersebut dengan menurunkan QS An-Nur: 11-21. Barangkali ini merupakan salah satu kisah paling masyhur terkait dengan Sayyidah Aisyah.

Selain apa yang disampaikan di atas, sebetulnya ada beberapa hal tentang Sayyidah Aisyah yang jarang atau tidak diketahui banyak orang. Seperti diuraikan Ahmad Khalil Jam’ah dan Syaikh Muhammad bin Yusuf ad-Dimasyqi dalam Istri-istri Para Nabi, berikut hal-hal tersebut:

Pertama, julukan, nama panggilan, dan nama lain. Sayyidah Aisyah memiliki perangai yang sangat baik, berkulit putih, berparas elok, dan memiliki pipi kemerah-merahan. Karena itu, Nabi Muhammad menjulukinya dengan Humaira. Selain julukan, Sayyidah Aisyah juga memiliki nama panggilan dan nama lain.

Dikisahkan bahwa suatu ketika Sayyidah Aisyah meminta Nabi Muhammad untuk membuatkan nama panggilan untuknya. Dia ingin seperti teman-temannya yang memiliki nama panggilan.

Nama panggilan yang dimaksud di sini adalah nama panggilan dengan menggunakan nama salah satu anak, biasanya anak pertama. Nabi lantas memberi nama panggilan istrinya itu dengan anak laki-lakinya, Abdullah bin Zubair. Ada kisah tersendiri mengenai hal ini. 

Jadi, pada saat Abdullah bin Zubair lahir, Sayyidah Aisyah membawanya kepada Nabi Muhammad. Beliau kemudian memberikan ludahnya di bibir Abdullah dan itu merupakan sesuatu yang pertama kali masuk ke dalam perutnya. Atas dasar itu, Nabi kemudian memberi nama panggilan Aisyah  dengan Ummu Abdullah. Hingga wafatnya, Aisyah kemudian dipanggil dengan nama panggilan Ummu Abdullah. 

Sayyidah Aisyah juga memiliki nama lain, yaitu Muwaffaqah (wanita yang diberi petunjuk). Hal ini sesuai dengan hadits riwayat at-Tirmidzi di kitab as-Syamail.

Kedua, dinikahi Nabi karena perintah langsung Allah. Dalam sebuah riwayat, Sayyidah Aisyah pernah mengungkapkan bahwa alasan Nabi Muhammad menikahinya adalah 'karena mimpi.' Jadi suatu ketika, Nabi Muhammad bermimpi didatangi Jibril yang membawa secarik kain sutra dengan gambar Sayyidah Aisyah. Jibril mengatakan bahwa wanita dalam gambar itu adalah istrinya. Mimpi Nabi ini berulang hingga tiga kali. 

“Jika mimpi ini dari Allah, tentu Dia akan mengabulkannya,” kata Rasulullah merespons ucapan malaikat itu. Dan benar saja, akhirnya Allah mengabulkannya.

Ketiga, pernah ‘dijodohkan’ dengan Jubair. Beberapa saat setelah Sayyidah Khadijah wafat, Nabi Muhammad disarankan untuk menikah kembali. Adalah Khaulah binti Hakim, sahabat Sayyidah Khadijah, yang meminta Nabi untuk menikah dengan Saudah binti Zam’ah dan juga Aisyah binti Abu Bakar.

Singkat cerita, Nabi kemudian mengutus Khaulah untuk melamar Aisyah setelah beliau mempersunting Saudah. Namun Abu Bakar tidak langsung menerima lamaran Nabi. Ia meminta Khaulah untuk menunggu karena sebelumnya Muth’im bin Adi pernah meminta Aisyah untuk anak laki-lakinya, Jubair.

Abu Bakar tidak ingin ingkar janji. Karenanya, dia mendatangi Muth’im dan menanyakan kembali perihal anaknya. Ternyata Muth’im tidak jadi mengawinkan anaknya dengan Aisyah. Dia khawatir anaknya akan masuk Islam manakala menikah dengan anak Abu Bakar tersebut.

Riwayat lain, sebagaimana dijelaskan M. Quraish Shihab dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW (2018), Abu Bakar tidak lagi menghendaki anaknya dinikahi Jubair setelah mengetahui keburukan keluarga Muth’im. Setelah itu, Abu Bakar menerima lamaran Nabi.

Keempat, jangka waktu rumah tangga dengan Nabi. Dari beberapa hadits yang diriwayatkannya, Sayyidah Aisyah mengaku hidup bersama Nabi Muhammad selama sembilan tahun. Nabi menikahinya ketika usia Aisyah sembilan tahun dan Nabi wafat ketika usia Aisyah 18 tahun.

Kelima, lomba lari dengan Nabi. Sayyidah Aisyah dan Nabi Muhammad beberapa kali melakukan lomba lari. Biasanya lomba lari dilaksanakan ketika dalam perjalanan. Pada satu kesempatan, Nabi Muhammad yang menang. Di kesempatan lain, Sayyidah Aisyah yang menang.

Al-Humaid, Abu Syaibah, Abu Daud, dan An-Nasai meriwayatkan satu hadits dari Aisyah bahwa suatu ketika Nabi Muhammad mengajak istrinya itu balapan lari. Maka keduanya berlomba dan Sayyidah Aisyah berhasil mengalahkan Nabi.

“Ketika aku (Aisyah) gemuk, Rasulullah berlomba denganku dan berhasil mengalahkanku. Kemudian beliau bersabda, ‘Hai Humaira, ini pembalasan kekalahan yang dulu.”

Keenam, menjadi sebab turunnya ayat tentang tayamum. Pada suatu hari Nabi Muhammad, Aisyah, dan para sahabat melakukan satu perjalanan. Pada saat sampai di al-Baida’ atau Daztu al-Jaisy—riwayat lain di al-Abwa’, kalung Aisyah terjatuh.

Mengetahui hal itu, Nabi Muhammad berhenti untuk mencarinya. Karena pada saat itu rombongan tidak memiliki air dan di tempat itu tidak ada mata air, maka para sahabat mengadu kepada Abu Bakar perihal sikap Aisyah yang sampai membuat Nabi berhenti.

“Engkau menahan Rasulullah dan orang-orang di tempat yang tidak ada mata airnya dan mereka tidak mempunyai air,” kata Abu Bakar kepada putrinya itu, sembari memarahinya.

Nabi mencari kalung istrinya hingga malam, namun tidak ketemu juga. Pada pagi esok harinya, Nabi bangun dengan tidak ada air di sampingya. Namun kemudian Allah menurunkan wahyu tentang tayamum. Mereka pun bertayamum setelah menerima wahyu tersebut. 

Kalung tersebut ditemukan tanpa sengaja oleh Aisyah, ketika dia mencari unta yang dinaikinya dan ternyata kalungnya ada di bawahnya. Demikian lah keberkahan Sayyidah Aisyah sehingga Allah menjadikan jalan keluar darinya. Yakni tayamum untuk bersuci, manakala tidak ada air.

Ketujuh, meriwayatkan 2.210 hadits. Sayyidah Aisyah adalah orang yang sangat cerdas, berwawasan luas, dan memiliki ingatan yang kuat. Atas semua itu, maka tidak heran jika ia meriwayatkan ribuan hadits dari Nabi Muhammad. Hadits sanad yang dimiliki Aisyah adalah 2.210 hadits. Bukhari dan Muslim sepakat terhadap 174 hadits dari riwayatnya. Bukhari sendiri meriwayatkan 54 hadits dari Aisyah, sementara Muslim 68 hadits.

Aisyah dikenal sebagai orang yang otoritatif dalam hal keagamaan. Makanya, Sayyidah Aisyah bertugas memberi fatwa pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan seterusnya hingga ia wafat.

Sayyidah Aisyah wafat pada malam Selasa, 17 Ramadhan tahun 58 H—riwayat lain 57 H- dalam usia 63 tahun—riwayat lain 66 atau 70 tahun. Abu Hurairah adalah sahabat yang ditugasi untuk memimpin shalat jenazah Sayyidah Aisyah. Sesuai dengan wasiatnya, Sayyidah Aisyah dimakamkan di Baqi.