Pandemi Corona dan Sejarah Azan Pitu di Cirebon Halau Wabah Penyakit
Cari Berita

Advertisement

Pandemi Corona dan Sejarah Azan Pitu di Cirebon Halau Wabah Penyakit

Redaksi
Senin, 23 Maret 2020

Assalaf.id - Wabah virus Corona tengah melanda Indonesia. Pemerintah menetapkan status darurat Corona hingga 29 Mei.

Ledakan pasien yang positif corona melonjak. Awal Maret lalu, Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengumumkan dua pasien positif corona. Hingga hari ini, Senin (23/3/2020), menurut data yang dirangkum detikcom sampai pukul 15.45 WIB sebanyak 579 pasien dinyatakan positif, 49 meninggal dunia dan 30 di antaranya sembuh.

Sejumlah daerah menyatakan status siaga terhadap penyebaran corona. Social distancing, menjaga jarak interaksi sosial menggema di dunia maya, termasuk imbauan bekerja di rumah. Pemerintah dan masyarakat bersatu melawan corona.

Cerita tentang wabah penyakit yang mengerikan juga pernah terjadi di Cirebon. Ya, cerita wabah penyakit yang konon berhasil dilawan suara azan. Azan yang khas dari Kota Wali, julukan Kota Cirebon. Namanya 'azan pitu,'. Pitu dalam bahasa Jawa bermakna tujuh. Artinya, azan yang dikumandangkan oleh tujuh orang atau muazin.

Azan pitu dikumandangkan setiap Salat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, salah satu masjid tertua di Kota Cirebon yang berada di sekitar komplek Kesultanan Kasepuhan Cirebon.

Perlawanan tujuh muazin terhadap wabah penyakit mengerikan itu merupakan salah satu sejarah fenomenal di Cirebon. Wabah penyakit tersebut dibuat oleh salah seorang yang sakti mandraguna, namanya Menjangan Wulu.

Serangan wabah penyakit Menjangan Wulu itu terjadi pada era Sunan Gunung Jati. Salah seorang muazin azan pitu yang juga pengurus DKM Agung Sang Cipta Rasa, Moh Ismail menceritakan lahirnya strategi azan pitu sebagai obat penawar wabah penyakit Menjangan Wulu itu,ide dari istri Sunan Gunung Jati, Nyi Mas Pakung Wati.

Ismail menceritakan Menjangan Wulu sengaja membuat wabah penyakit lantaran kesal dengan banyaknya masyarakat yang memilih untuk memeluk Islam. Menjangan Wulu geram melihat Masjid Agung Sang Cipta Rasa 'diserbu' masyarakat yang ingin beribadah.

"Masyarakat yang saat itu belum memeluk Islam penasaran dengan bentuk dan ornamen masjid (Masjid Agung Sang Cipta Rasa). Apalagi saat azan dikumandangkan, akhirnya masyarakat berani memeluk Islam," kata Ismail saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.

Menjanga Wulu pun bereaksi. Ia mencari tahu alasan masyarakat Cirebon memeluk Islam. Menurut Ismail, Menjangan Wulu menyimpulkan suara merdu azan menjadi salah satu alasan masyarakat memeluk Islam.

Hingga akhirnya Menjangan Wulu menyerang para muazin melalui wabah penyakit yang diciptakannya. Sehinga, muazin Masjid Agung Sang Cipta Rasa berjatuhan akibat serangan wabah penyakit. Kondisi demikian membuat orang-orang enggan menjadi muazin, lantaran langsung terserang penyakit saat mengumandangkan azan.

"Racun itu bereaksi ketika ada orang azan. Menyerang muazin, mengakibatkan sakit. Akhirnya tak bisa azan. Kemudian Nyi Mas Pakung Wati memerintah agar muazinnya itu jangan satu," kata Ismail.

Intruksi Nyi Mas Pakung Wati pun langsung dilaksanakan. Azan pun dikumandangkan oleh dua orang. Sayangnya, dua orang muazin itu langsung menderita sakit akibat serangan Menjangan Wulu. Ternyata, Menjangan Wulu menaruh racun di lingkungan masjid.

"Hingga akhirnya Nyi Mas Pakung Wati menginstruksikan azan dikumandangkan oleh tujuh orang. Ternyata, setelah tujuh muazin itu mengumandang azan tak terjadi apa-apa. Tidak ada serangan racun. Azan berhasil diselesaikan," kata Ismail.

Setelah azan dikumandang, terdengar suara ledakan yang kencang dari atap masjid. "Ledakan itu dari racun yang dibuat Menjangan Wulu. Akhirnya azan pitu terus dilanjutkan setiap salat lima waktu," kata Ismail.

Setelah serangan wabah penyakit yang ditimbulkan dari racun Menjangan Wulu sudah berhasil diatasi, akhirnya Nyi Mas Pakung Wati menginstruksikan agar azan pitu dikumandangkan hanya saat Salat Jumat.

"Sampai sekarang masih dikumandangkan. Ya, muazin azan pitu ini dilakukan turun temurun. Saya jadi muazin, karena kakek saya pernah jadi muazin di sini," ucap Ismail.

Sekadar diketahui, dalam catatan sejarah Masjid Agung Sang Cipta Rasa awalnya bernama Masjid Pakung Wati. Menurutnya nama masjid berubah sekitar tahun 1970. "Karena ini kan persembahan buat istri Sunan Gunung Jati, jadi awalnya bernama Masjid Pakung Wati," kata Ismail.

Sumber: detik.com