Lucu! Banyak Tokoh yang Percaya Virus Corona Konspirasi Zionis Yahudi dan Illuminaty -->
Cari Berita

Advertisement

Lucu! Banyak Tokoh yang Percaya Virus Corona Konspirasi Zionis Yahudi dan Illuminaty

Redaksi
Minggu, 29 Maret 2020

Assalaf.id - Terkait COVID-19 (Corona), kenapa banyak orang (dari awam sipil [semacam saya], hingga ulama/kiai) mudah terkecoh dengan gosip dan isu (seperti konspirasi global Yahudi, Zionis, Freemason, Illuminaty, wa ma akhwatuhum ajma'in)?

Saya simpulkan di antara sebab-sebabnya sebagai berikut:

Pertama,
Pola pikir manusia lebih menerima kesimpulan yang bersifat sederhana dan koheren (bersangkut-paut) daripada kesimpulan data yang kompleks.

Semisal, menghubung-hubungkan COVID-19 dengan konspirasi global jauh lebih sederhana daripada membuktikannya dengan data yang kompleks. Pembuktian konspirasi benar-benar rumit karena harus melewati penelitian yang dalam, metodologi penelitian yang ketat, informasi yang rumit, hubungan internasional yang kompleks, hingga pengamatan perekonomian dunia yang fluktuatif.

Kedua,
Cara kerja kepala lebih gampang menerima hubungan korelasi (nyambung) daripada hubungan kausalitas (sebab-akibat).

Semisal, ketika hujan berhenti, dan di sana ada pawang hujan sedang beraksi, maka saksi yang melihat hujannya berhenti akan lebih menerima korelasi antara pawang dan hujan daripada bukti kausalitas bahwa kebetulan stok air di awan sudah habis.

Sebab pertama & sebab kedua inilah yang melahirkan ilmu cocoklogi (pseudosains) yang digandrungi banyak orang karena keterbatasan (atau kemalasan?) mencari informasi kompleks yang jauh lebih hati-hati

Ketiga,
Isi kepala lebih mudah menerima konten (isi) daripada reliabilitas (hasil pengukuran yang andal).

Gosip tentang COVID-19 yang sudah tersaji sangat mudah ditelan mentah-mentah daripada menelaah kajian pakar virologi, epidemologi, dan farmasi yang menyajikan informasi kompleks dengan bahasa medik yang asing di telinga non-medikal (bahwa COVID-19 tercipta secara alamiah, misalnya).

Mungkin di sini penyebab orang-orang lebih mudah menyimpulkan berita hanya berdasarkan judul daripada membaca utuh artikelnya. Orang-orang tidak khawatir menyimpulkan, kendatipun berita yang disajikan berbeda sekali dengan judul beritanya.

(Sebab-sebab di atas saya urai dari presentasi Andhyta F. Utami tentang teorinya Daniel Kahneman)

Dinukil dari Rumail Abbas(fb)