Kisah Warga Muhammadiyah di Basis NU: Dihormati dan Dihargai -->
Cari Berita

Advertisement

Kisah Warga Muhammadiyah di Basis NU: Dihormati dan Dihargai

Redaksi
Rabu, 04 Maret 2020

Assalaf.id - Tetangga saya ada yang Muhammadiyah namun minoritas. Tapi Kami warga Nahdliyyin Madura  tidak keberatan dengan keberadaan dan amaliyah mereka.

Suatu saat saya hadir takziyah bersama warga Nahdliyyin di rumah tokoh Muhammadiyah yang kebetulan istrinya wafat. Beliau bilang sama rombongan saya:

“tan-taretan se kasokan atahlil ka’ator, se tak kasokan tak ponapah, nyo’onah duwenah rajih kauleh sopajeh esaporah dusanah”

(Saudara yang biasa baca Tahlil monggo, yang tidak biasa tidak apa-apa tidak bertahlil cuma mohon doanya supaya dosa istri saya diampuni)

Kami pun bersama rombongan baca Yasin dan Tahlil. Selesai acara, kami disuguhi hidangan. Alhamdulillah Kami dihormati dan saling pengertian.

Selanjutnya beberapa bulan setelah itu, kami diundang warga salah satu warga Muhammadiyah yang ingin mengadakan umroh. Istilah NU (selametan umroh). Saya bertanya Kepada Tuan rumah “Kalau acara selametan versi Muhammadiyah bagaimana?”

Warga menjawab, silahkan pimpin kiai. Sesuai kebiasaan kiai ketika selametan. Saya tidak mau tapi tuan rumah memaksa, ahirnya saya membaca Sholawat Jailani Dan Istighatsah Ala NU. Setelah acara selasai kami berguman bersama tuan rumah.

“Alangkah indahnya hidup rukun antara NU dan Muhammadiyah kalau begini Ya”

Tuan rumah angguk-angguk kepala.

Alhamdulillah kami di Madura hidup rukun dan damai tidak ada penolakan acara apapun baik acara NU atau acara Tabligh Muhammadiyah.

Toleransi dan saling menghargai itu ajaran yang kami dapat dari para kiai dan Ulama di Pesantren dan NU.

Walaupun kami tidak hafal ayat Fastabiqul Khairat, atau istilah Islam berkemajuan. Tapi ini didikan para guru-guru dan kiai kami di pesantren.

NU tetap cinta damai, dan menghormati perbedaan. Kami bisa akur dengan non muslim mosok sesama muslim tidak akur.

--

Dishare dari Hamid Roqib, GMNU Madura.