Ulama dan Habaib Asia Tenggara Bahas Penguatan Ukhuwah Islamiyah di Nusantara -->
Cari Berita

Advertisement

Ulama dan Habaib Asia Tenggara Bahas Penguatan Ukhuwah Islamiyah di Nusantara

Redaksi
Kamis, 27 Februari 2020

Assalaf.id - Sekitar 30 ulama dan habaib terkemuka dari dari Indonesia, Malaysia,Thailand, dan Singapura berkumpul di Malaka, Malaysia guna membahas persatuan umat Islam (ukhuwah Islamiyah) di tingkat negara-negara di kawasan Nusantara.

Pertemuan para ulama ini melibatkan sejumlah nama ulama besar seperti KH Miftachul Akhyar Rais Aam PBNU, KH Afifuddin Muhajir, Habib Ali Zainal Abidin Alhamid (Malaysia), Habib Ahmad Almujtaba, Habib Abu Zakir Alhadrawi (Malaysia), Muhammad Ibrohim Fathoni (Pattani – Thailand), Ustad Zulkifli Bin Ismail Bin Muhammad Melaka (Malaysia), Habib Hadi Alidrus, dan ulama lain.

Agenda utama dari pertemuan tersebut adalah penguatan ukhuwah islamiyah dalam rangka menghadapi tantangan zaman.

“Menurut saya yang paling penting adalah persatuan Islam dan kaum muslimin. Tidak melihat apa organisasinya. Akan tetapi di sisi yang lain kita ingin memperkuat akidah ahlussunnah waljamaah,” kata KH Afifuddin Muhajir kepada NU Online, Kamis (27/2).

Penguatan umat Islam di kawasan Asia Tenggara sangat penting mengingat banyaknya kelompok yang melahirkan ide dekonstruktif terhadap negara dan masyarakat yang diatasnamakan ajaran Islam. 

Ia mencontohkan, selama ini Indonesia, oleh sebagian kelompok, dicap sebagai negara kotor dan negara toghut, dengan alasan, karena Indonesia tidak berdasarkan Syariat Islam.

“Kita tidak terima itu. Mereka yang punya tuduhan seperti itu nampaknya mereka tidak tahu sejarah, bagimana pendiri Indonesia berjuang mati-matian untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.

Padahal, lanjutnya, Pancasila dilahirkan untuk menjembatani antara dua kubu nasionalisme di dalam tubuh pejuang Indonesia kala itu.

Terdapat dua kubu yakni nasionalis Islam dan nasionalis sekuler yang sama-sama menginginkan Indonesia seperti ide masing-masing: Nasionalis Islam menginginkan negara ini berdasakan Islam, sementara yang satunya menginginkan negara ini menjadi negara sekuler.

“Kedua keinginan ini tidak mungkin bertemu. Tapi rupanya Allah SWT menghendaki pancasila menjadi pemersatu. Di antara dua kelompok itu. Dan alhamdulillah Indonesia menjadi negara yang aman,” ujarnya.

Hal itu merupakan salah satu best practices yang dapat diangat ke permukaan untuk menguatkan khazanah Islam di Nusantara.

Pertemuan ini merupakan rangakaian kegiatan Ijtima Pra-Muktamar Ulama Syafii-Asy'ari Nusantara yang diselenggarakan atas kerja sama Nahdlatul Ulama, Majelis Muwasholah, dan Gawagis Nusantara.

Sumber: NU Online