Pesan KH Hasyim Asy’ari tentang Kewajiban Ulama Masa Kini -->
Cari Berita

Advertisement

Pesan KH Hasyim Asy’ari tentang Kewajiban Ulama Masa Kini

Redaksi
Jumat, 14 Februari 2020

Assalaf.id - Setiap 14 Februari, warga Nahdlatul Ulama sebenarnya dihadapkan pada peringatan hari kelahiran KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Beliau lahir pada 14 Februari 1871 dan wafat pada 25 Juli 1947. Namun, ada juga yang menulis hari lahir Kiai Hasyim Asy’ari pada 10 April 1875 di sejumlah tulisan, termasuk Wikipedia versi bahasa Inggris, tetapi tidak demikian dengan Wikipedia versi bahasa Indonesianya yang menulis wafat Kiai Hasyim Asy’ari pada 14 Februari itu.

Tanggal wafat Kiai Hasyim Asy’ari pada 14 Februari 1871 terkonfirmasi di buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU karya Choirul Anam (terbitan 1985 dan 2010). Ia merupakan sosok yang berjuang hingga nafas terkahir demi kemerdekaan bangsa Indonesia dan tegaknya syiar Islam Ahlussunnah wal Jamaah di bumi Nusantara bahkan hingga sampai ke tingkat global.

Setahun sebelum menghembuskan nafas terkahir, tepatnya pada 26 Maret 1946, KH Hasyim Asy’ari menyampaikan khotbah iftitah atau pidato pembuka pada gelaran Muktamar ke-16 NU di Purwokerto, Jawa Tengah. Beliau menyampaikan soal kewajiban ulama masa kini terhadap Islam dan umat Islam itu sendiri. ‘Masa kini’ yang dimaksud saat itu ialah bangsa Indonesia dihadapkan pada era revolusi dan masa-masa yang akan datang.

Karena tantangan bangsa Indonesia kala itu bukan hanya dihadapkan pada Agresi Militer Belanda II, tetapi juga gerakan-gerakan makar yang dilakukan kelompok komunis dan kelompok-kelompok Islam konservatif. Maka dari itu, Kiai Hasyim Asy’ari pada kesempatan forum tertinggi NU itu menyampaikan tentang penguatan mental sebagai bangsa merdeka kepada rakyat Indonesia.

Menurut Kiai Hasyim Asy’ari yang dikemukakan oleh KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (2013), di sini peran ulama penting untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan keilmuannya agar mampu menjawab berbagai problem keagamaan dan sosial di tengah masyarakat. Apalagi rakyat sedang dihadapkan pada zaman revolusi pasca-kemerdekaan.

Kiai Hasyim Asy’ari juga berpesan, perjuangan ulama pesantren selama hampir 20 tahun dalam melawan penjajahan harus disikapi secara bijak karena tantangan ke dapan tidak semakin muda, bahkan semakin sulit. Beliau kembali menegaskan bahwa berbagai macam aliran keagamaan yang bertentangan dengan garis perjuangan Nabi dan para sahabatnya bakal bertebaran sehingga ulama berkewajiban memberikan pemahaman keagamaan yang utuh kepada umat.

Pada masa itu, Kiai Hasyim Asy’ari juga menegaskan kembali penguatan keimanan umat Islam Indonesia yang akan kembali menghadapi Agresi Militer Belanda II. Di sini, perjuangan dan peran ulama untuk terus membangkitkan semangat perjuangan umat Islam tidak kalah penting. Terutama di masa-masa yang akan datang, agar ruh dan nilai-nilai Islam menjiwai seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa dan negara yang majemuk ini. Di sini Kiai Hasyim Asy’ari berupaya memperkuat prinsip persaudaraan antarsesama anak bangsa (ukhuwah wathoniyah).

Dalam berbagai kesempatan, masyarakat Indonesia khususnya warga NU bisa memahami bahwa kemampuan KH Hasyim Asy’ari dan ulama-ulama pesantren dalam melihat kehidupan masa depan bangsa begitu terukur sehingga langkah antisipasi bisa dilakukan dengan baik. Hal tidak hanya membutuhkan pengalaman dalam melakukan perjuangan, tetapi juga keikhlasan dan ikhtiar batin yang kuat dalam memperkokoh kesatuan bangsa.

Perhatian Kiai Hasyim Asy’ari terhadap nasib bangsa dilakukannya hingga hembusan nafas terkahir. Hal itu seperti yang dikemukakan KH Saifuddin Zuhri dalam Guruku Orang-orang dari Pesantren (2001). Ketika itu pada pada 21 Juli 1947 Belanda melakukan serangan secara tiba-tiba di wilayah Republik Indonesia.

Dalam serangan kejuatan tersebut, tentu saja banyak korban berjatuhan, terutama para pejuang santri, baik dari Hizbullah dan Sabilillah. Hampir setiap hari umat Islam melakukan gerakan batin di samping kesiapsiagaan militer.

Tiap-tiap sembahyang dilakukan qunut nazilah, sebuah doa khusus untuk memohon kemenangan dalam perjuangan. Sebab serangan pada 21 Juli 1947 tersebut, daerah RI semakin menciut.

Istilah KH Saifuddin Zuhri tinggal selebar godong kelor (daun kelor). Daerah tersebut hanya meliputi garis Mojokerto di sebelah Timur dan Gombong (Kebumen) di sebelah barat dengan Yogyakarta sebagai pusatnya. Kota Malang jatuh dalam agresi Belanda 21 Juli 1947 tersebut.

Jatuhnya kota perjuangan pusat markas tertinggi Hizbullah-Sabilillah Malang ini sangat mengejutkan Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Ketika berita musibah itu disampaikan oleh Kiai Gufron (Pemimpin Sabilillah Surabaya), Kiai Hasyim Asy’ari sedang mengajar ngaji.

Begitu berita buruk itu disampaikan, Kiai Hasyim Asy’ari seketika memegangi kepalanya sambil berdzikir menyebut nama Allah SWT: “Masyaallah, Masyaallah!” lalu pingsan tak sadarkan diri. Hadhratussyekh mengalami pendarahan otak setelah diperiksa.

Dokter angka yang didatangkan dari Jombang tidak bisa berbuat apa-apa karena keadaannya telah parah. Utusan Panglima Besar Soedirman dan Bung Tomo yang khusus datang untuk menyampaikan berita jatuhnya Malang tidak sempat ditemui oleh Hadhratussyekh.

Malam itu tanggal 7 Ramadhan 1366 H bertepatan 25 Juli 1947, Hadharatussyekh KH Hasyim Asy’ari menghembuskan nafas terakhirnya dengan membawa kepedihan mendalam atas apa yang menimpa bangsa Indonesia.

Sumber: NU Online