Persatuan Wartawan di Rembang Silaturahim dan Ngaji ke Gus Baha -->
Cari Berita

Advertisement

Persatuan Wartawan di Rembang Silaturahim dan Ngaji ke Gus Baha

Redaksi
Selasa, 11 Februari 2020

Assalaf.id - Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) ke- 74 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Rembang menggelar silaturahmi ke kediamannya ulama kharismatik KH. Bahaudin Nursalim Narukan Kecamatan Kragan, Senin (10/2/2020) malam.

Tujuan silaturahmi yang digelar itu untuk ngaji bareng bersama Gus Baha sapaan akrab KH. Bahaudin Nursalim di Pondok pesantren Tahfidz yang diasuhnya

Selama satu jam lebih , kiai yang berpenampilan sederhana dengan didampingi sang adik yakni Gus Umam itu menjelaskan banyak hal. Khususnya terkait profesi kewartawanan.

Dengan gaya santai dan saling tanya jawab itupun para pewarta tak bisa menyembunyikan gelak tawa saat ada penjelasan yang unik dan menarik.
Dalam kesempatan itu pengasuh pondok Tahfidz mengajak wartawan untuk menjalankan profesinya dengan baik dan ikhlas.

Karena, pada dasarnya, profesi seorang wartawan sudah sejak dulu ada pada zaman nabi.

“Sebetulnya profesi wartawan sudah ada sejak zaman nabi dulu. Soal berita hoaks propaganda, menjelek – jelekkan yang lain itu sudah ada,” jelas Gus Baha’

Namun demikian semua profesi kata Gus Baha’ kalau digunakan untuk hal yang tidak baik, juga akan menjadi sarang dosa.

Pada zaman nabi, lanjut Gus Baha’, profesi wartawan juga disebut atau diibaratkan juga sebagai seorang penyair. Mengingat zaman dahulu memang belum ada peralatan modern yang bisa dijadikan media cetak atau elektronik seperti sekarang ini.

Selain itu, informasi yang disyairkan oleh yang disebut wartawan zaman dulu atau yang diibaratkan penyair itu dapat mempengaruhi masyarakat. Dan itupun tergantung positif dan negatifnya yang disampaikan kepada khalayak umum.

“Zaman nabi ada profesi wartawan disewa untuk suruhan raja tertentu, untuk mengambil informasi lain (lawannya, red). kebijakan, profesional. Karena dulu juga obyektif tidak dikemas, mereka juga di bayar. Tapi kemudian ada pemain (wartawan) yang tidak obyektif juga ada,” jelasnya.

Sedangkan media zaman itu yang dimanfaatkan ialah sekitaran Ka’bah. Tempat itu dipilih lantaran sebagai sarana atau majalah dinding yang dapat dibaca oleh masyarakat zaman dahulu.

“Dulu itu, (sekitar) Ka’bah, digunakan untuk sarana papan informasi masyarakat. Ditempel disitu, karena Ka’bah banyak dikunjungi puluhan ribu masyarakat,” bebernya.

Perlu diketahui, ada sejumlah agenda diselenggarakan oleh PWI Rembang untuk peringatan HPN 2020.

Seperti, tumpengan, ziarah kubur dan tahlil ke makam wartawan, dan bakti sosial penyerahan tanaman dan buku disejumlah sekolah pada tanggal 13 dan 20 Februari 2020 mendatang.(san)

Sumber: Mediatajam.com