Meluruskan Ustad Adi Hidayat yang Menyebut Palsu Hadits Keutamaan Rajab
Cari Berita

Advertisement

Meluruskan Ustad Adi Hidayat yang Menyebut Palsu Hadits Keutamaan Rajab

Redaksi
Selasa, 25 Februari 2020

Assalaf.id - Menurut Ustadz Adi Hidayat, hadits yang menjelaskan keutamaan Rajab yang beliau baca itu adalah hadits palsu. Sementara menurut Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H) hadits tersebut bukan palsu, tapi dha’if.

(وَسُئِلَ) نَفَعَ اللَّهُ بِهِ عَنْ حَدِيث … إلى قوله :وَحَدِيثِ «مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنْ رَجَبٍ كَانَ كَصِيَامِ شَهْرٍ، وَمَنْ صَامَ مِنْهُ سَبْعَةَ أَيَّامٍ أُغْلِقَتْ عَنْهُ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ السَّبْعَةُ وَمَنْ صَامَ مِنْهُ ثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ، وَمَنْ صَامَ مِنْهُ عَشَرَةَ أَيَّامٍ بُدِّلَتْ سَيِّئَاتُهُ حَسَنَاتٍ» هَلْ هِيَ مَوْضُوعَةٌ أَمْ لَا؟ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ لَيْسَتْ مَوْضُوعَةً بَلْ ضَعِيفَةٌ فَتَجُوز رِوَايَتُهَا وَالْعَمَلُ بِهَا فِي الْفَضَائِلِ. الفتاوى الفقهية الكبرى (2/ 86)

Beliau (Ibnu Hajar) – semoga Allah memberikan kemanfaatan untuk beliau – ditanya tentang hadits (salah satunya): “Barangsiapa berpuasa satu hari di bulan Rajab, seakan dia berpuasa satu bulan. Barangsiapa berpuasa tujuh hari, tujuh pintu neraka Jahanam dikunci untuknya. Barangsiapa berpuasa delapan hari, delapan pintu surga dibuka untuknya. Barangsiapa berpuasa sepuluh hari, keburukannya diganti dengan kebaikan.”

Hadits-hadits itu palsu atau tidak?

Imam Ibnu Hajar menjawab, “Hadits-hadits itu tidak palsu (maudhu’), namun lemah (dha’if). Maka periawayatan dan pengamalannya boleh untuk ibadah-ibadah tambahan (fadhail al-a’mal). (al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, Vol 2, 86)

Syaikh Ibnu Hajar menambahkan, orang yang mengingkari pengamalan Puasa Rajab karena haditsnya dha’if adalah orang bodoh yang tertipu.

وَقَدْ تَقَرَّرَ أَنَّ الْحَدِيثَ الضَّعِيفَ وَالْمُرْسَلَ وَالْمُنْقَطِعَ وَالْمُعْضِلَ، وَالْمَوْقُوفَ يُعْمَلُ بِهَا فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ إجْمَاعًا وَلَا شَكَّ أَنَّ صَوْمَ رَجَبٍ مِنْ فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ فَيُكْتَفَى فِيهِ بِالْأَحَادِيثِ الضَّعِيفَةِ وَنَحْوِهَا وَلَا يُنْكِرُ ذَلِكَ إلَّا جَاهِلٌ مَغْرُورٌ. الفتاوى الفقهية الكبرى (2/ 54)

“Dapat ditetapkan bahwa hadits dha’if, mursal, munqathi’, mu’dhal, dan mauquf, sesuai kesepakatan para ulama dapat diamalkan pada ibadah-ibadah tambahan (fadhail al-a’mal). Tak diragukan bahwa Puasa Rajab termasuk ibadah-ibadah tambahan, maka pengamalannya cukup berdasarkan hadits-hadits dha’if dan sejenisnya. Orang yang mengingkari hal itu adalah orang bodoh yang tertipu.” (al-Fatawa al-Kubra, Vol 2, 54)

Kedua, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa salah satu segi kepalsuan hadits tersebut adalah “dari segi akal sehat nggak masuk”. Beliau katakan, “Kalau sudah tahu dengan puasa Rajab dibebaskan dari neraka dan telah dibukakan pintu surga, untuk apa puasa Ramadhan?”

Pernyataan beliau ini justru yang aneh. Bukankah setiap ibadah punya keutamaan tersendiri, tapi tidak ada ulama yang lalu menjelaskan, “Keutamaan itu nggak masuk akal, karena nanti orang hanya mengamalkan ibadah itu dan tidak mau mengamalkan yang lain.” Haji mabrur balasannya adalah surga. Tapi tak ada seorang muslim pun yang lantas punya keyakinan: “Cukup ibadah haji saja, nggak usah shalat, toh sudah dijanjikan surga.”

Keutamaan luar biasa dari sebuah ibadah ringan, tidak menjadi satu-satunya tanda bahwa hadits tersebut palsu. “Ibadah ringan” tapi memiliki keutamaan besar, yaitu dibukakan pintu surga yang jumlahnya delapan buah, salah satunya dijelaskan dalam hadits shahih dalam Shahih Muslim berikut ini:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ – أَوْ فَيُسْبِغُ – الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ . صحيح مسلم (1/ 209)

“Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudlu, lalu menyampaikan wudlunya atau menyempurnakan wudlunya kemudian dia membaca doa – yang artinya – Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya melainkan pintu surga yang delapan akan dibukakan untuknya. Dia masuk dari pintu manapun yang dia kehendaki’. (HR Muslim, Vol 1, 209)

Wallahu a’lam


Dishare dari Ustadz Faris Khoirul Anam