Kontroversi Ridwan Saidi: 'Sriwijaya Bajak Laut' Hingga 'Kerajaan Galuh Brutal' -->
Cari Berita

Advertisement

Kontroversi Ridwan Saidi: 'Sriwijaya Bajak Laut' Hingga 'Kerajaan Galuh Brutal'

Redaksi
Jumat, 14 Februari 2020

Assalaf.id -  Budayawan Betawi Ridwan Saidi menuai protes usai menyebut tidak ada Kerajaan Galuh, di Ciamis, Jawa Barat. Bukan kali ini saja Ridwan Saidi melontarkan pernyataan kontroversial terkait sejarah kerajaan di Indonesia.

Ridwan Saidi kerap membuat penafsiran soal sejarah kerajaan Indonesia di luar pakem arus utama sejarah Indonesia. Dia tak segan-segan untuk menyebut Kerajaan Sriwijaya itu fiktif dan Sriwijaya itu bajak laut. Kini, pria yang akrab disapa Babe itu menyebut di Ciamis tak ada kerajaan dan Kerajaan Sunda Galuh artinya brutal.

Pada Jumat (14/2/2020), detikcom merangkum pernyataan-pernyataan kontroversial Ridwan Saidi soal kerajaan di Indonesia. Berikut ini daftarnya:

1. Sebut 'Kerajaan Sriwijaya Bajak Laut'

Pernyataan pertama Ridwan Saidi soal 'tafsiran sejarah' eksistensi kerajaan di Indonesia yang menuai protes ialah terkait kerajaan Sriwijaya. Ucapan Ridwan ini ada dalam sebuah video berdurasi 15 menit yang diunggah oleh akun Macan Idealis. Dalam video tersebut, Saidi nampak menjawab sejumlah pertanyaan Vasco Ruseimy yang merupakan eks Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi.

Mulanya, dalam video tersebut Saidi menyebut Raja di Terengganu terusir karena kehadiran kaum Yahudi. Oleh sebab itu, kerajaan ini lantas meminta bantuan dari kerajaan-kerajaan Melayu yang ada di Indonesia.

Kemudian Saidi ditanya soal kerajaan-kerajaan mana saja yang mengirim kontingennya. Saidi menyebut kerajaan Majapahit tidak mengirimkan kontingen karena saat itu sudah redup. Selanjutnya, ketika ditanya soal Kerajaan Sriwijaya, Saidi mengatakan Kerajaan Sriwijaya itu fiktif.

"Sriwijaya, itu kerajaan fiktif, kita nggak sebut ya. Entar kita cerita. Yang saya sebut Saparua misalnya," jawab Saidi menegaskan ucapannya.

Saidi lantas menjelaskan bahwa saat itu yang mengirimkan kontingen adalah Kerajaan Pagaruyung, sahabat Negeri Sembilan. Pada menit 6.00 Saidi mengulangi lagi pernyataannya soal Sriwijaya kerajaan fiktif. Bahkan, kali ini dia mengatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya adalah bajak laut. Saidi juga menampik soal bukti-bukti sejarah Kerajaan Sriwijaya.

"Sriwijaya ini kan kerajaan fiktif. Itu kan bajak laut yang berpangkalan di Koromandel," ujarnya.

"Tapi kan ada bukti-bukti sejarahnya?" tanya Vasco.

"Tidak ada. Semuanya dongeng. Nggak ada jejaknya. Jadi kirim pasukan Palembang. Bukan Sriwijaya. Itu waktu sudah kesultanan Palembang. Digebahlah Patih Terengganu ini," jawab Saidi tegas.

Pernyataan itu lantas menuai protes, karena dinilai menyinggung masyarakat Palembang, tempat di mana kerajaan Sriwijaya pernah berdiri. Pemkot Palembang pun mengungkapkan kekecewaannya.

"Ya kita kecewa dengan kalimat seperti yang menyebut kerajaan Sriwijaya fiktif. Apalagi beliau (Ridwan Saidi) itu adalah budayawan," ujar Kabag Humas Pemkot Palembang, Amiruddin saat dihubungi, Rabu (28/8/2019).

Sementara itu, budayawan Sumatera Selatan menilai Ridwan salah, karena bajak laut marak justru setelah Sriwijaya runtuh. "Ini kita bicara hasil dari hasil penelitian lapangan ya, di mana sebenarnya bajak laut itu disebut saat Cheng Ho datang ke Nusantara. Dia datang sesuai perintah untuk menumpas bajak laut dan saat itu Sriwijaya sudah runtuh," kata budayawan Sumatera Selatan, Erwan Suryanegara, saat dimintai konfirmasi lewat telepon, Kamis (29/8/2019).

Namun, Ridwan Saidi mempersilakan orang yang mengkritik pendapatnya terkait Kerajaan Sriwijaya itu. Dia juga mengaku semua pemaparannya tersebut dari proses penelitian sejarah yang lama.

"Jangan main instan. Tiga puluh tahun saya melakukan penelitian. Buku yang saya baca misalnya 'The Timetables of History: A Horizontal Linkage of People and Events oleh Bernard Grun'. Lalu saya baca juga buku oleh Josephus yang berjudul 'Historica'. Saya baca juga buku karya Claudius Ptolemaeus yang berjudul 'Geographia', itu ditulis tahun 161," kata Ridwan Saidi saat dihubungi detikcom, Rabu (29/8/2019).

2. Sebut 'Tarumanegara Fiktif'

Masih dalam video yang sama, Ridwan Saidi juga berbicara soal Kerajaan Tarumanegara. Sama seperti Kerajaan Sriwijaya, Babe juga menyebut Kerajaan Tarumanegara itu fiktif.

"Tarumanegara, yes fiktif, fiktif berat. Itu adalah kesalahan arkeolog terutama Poerbatjaraka yang dianggap mbahnya arkeolog. Dia mengira prasasti-prasasti yang ada di Jawa bagian barat, Jakarta saya masukkan Jawa bagian barat, dan Jawa Tengah itu berbahasa Sanskerta dan beraksara Palawa. Dia salah. Itu adalah berbahasa Hindi-Khmer. Jadi tebak-tebakan Poerbatjaraka ngawur sama sekali ketika dia mentarjamah Prasasti Sukapura, Tanjung Priok," kata Ridwan Saidi sebagaimana dilihat detikcom.

Ridwan Saidi menyoroti Tarumanegara, kerajaan menyebut prasasti yang ditemukan di Tanjung Priok Jakarta sebagai Prasasti Sukapura. Namun, prasasti yang ditemukan di Tanjung Priok bernama Prasasti Tugu. Prasasti tugu dipahatkan pada batu andesit berbentuk bulat telur dengan tinggi 1 meter. Tulisan pada prasasti ini berjumlah 5 baris, beraksara Pallawa, berbahasa Sansekerta.

Arkeolog Universitas Indonesia (UI) Ninny Soesanti Tedjowasono menjelaskan kepada detikcom perihal prasasti ini. Sebagai seorang epigraf (ahli membaca prasasti dan tulisan kuno), Ninny memastikan bahasa yang digunakan di Prasasti Tugu adalah berbahasa Sanskerta, bukan berbahasa Hindi-Khmer seperti yang dikatakan Ridwan Saidi.

"Saya epigraf dan mengerti Bahasa Sanskerta. Sangat jelas Prasasti Tugu berbahasa Sanskerta dengan Akasara Pallawa," kata Ninny. "Prasasti Khmer pada Abad ke-6 juga masih berbahasa Sanskerta," sambungnya.

3. Sebut 'Tak ada Kerajaan di Ciamis'

Ridwan Saidi kemudian kembali membuat pernyataan kontroversial lagi. Kini, Ridwan menyebut tak ada kerajaan di Ciamis, Jawa Barat. Selain itu, Kerajaan Sunda Galuh ia nilai salah penamaannya.

Pernyataan ini ada dalam Video berdurasi 12 menit 31 detik dengan judul 'GEGEER !! TERNYATA KERAJAAN KERAJAAN DI INDONESIA SANGAT DITAKUTI DI DUNIA' yang diunggah 12 Februari 2020. Dia masih ditemani oleh Vasco.

"Saya mohon maaf dengan saudara dari Ciamis. Di Ciamis itu nggak ada kerajaan, karena indikator eksistensi kerajaan itu adalah indikator ekonomi, Ciamis penghasilannya apa? Pelabuhannya kan di selatan bukan pelabuhan niaga, sama dengan pelabuhan kita di Teluk Bayur, bagaimana membiayai kerajaan," ujar Ridwan.

"Lalu diceritakanlah ada raja Sunda Galuh. Sunda galuh saya kira agak keliru penamaan itu, karena galuh artinya brutal, jadi saya yakin tidak ada peristiwa Diah Pitaloka, wanita dari Sunda Galuh itu dipanggul-panggul dibawa ke Hayam Wuruk untuk dikawinin. Itu yang dikatakan perang bubat, sedangkan bubat itu artinya lapang olahraga bukan nama tempat. Jadi di bubat yang mana dia perang. Juga di Indonesia tidak ada adat perempuan mau kawin dijunjung-junjung dianterin ke rumah lelaki itu kagak ada, itu tidak Indonesia," tuturnya.

Ucapan Babe Saidi itu mendapat respon dari sejumlah tokoh hingga unsur masyarakat Ciamis. Dia diminta datang untuk melihat langsung berbagai bukti sejarah terkait kerajaan di Ciamis.

Saat dikonfirmasi detikcom, Ridwan Saidi mengaku tidak bermaksud untuk mencemooh sejarah di Ciamis. Ridwan justru mengajak melakukan penelitian terkait sejarah Sunda Galuh.

"Saya enggak punya niatan lain, anak Betawi saya kritik abis-abisan. Ane gak ada pamaksadan nu aneh-aneh enggak ada (saya tidak bermaksud yang aneh-aneh tidak ada)," ucapnya, saat dihubungi, Kamis (13/2/2020).

Dalam kesempatan itu, dia mencoba memberi penjelasan terkait arti kata Galuh. Menurutnya Galuh itu berasal dari bahasa Armenia yang berarti brutal.

"Bukan dari saya, masa ngarang, saya enggak bisa ngarang-ngarang dong, yang bener aje," ucap Babe Saidi.

Gelombang protes kepada Ridwan itu terus disuarakan. Budayawan, kabuyutan, organisasi masyarakat, suporter sepakbola balad Galuh hari ini melakukan orasi mimbar bebas di Alun-alun Ciamis. Bahkan aksi ini dihadiri langsung oleh Bupati Ciamis Herdiat Sunarya dan Wakil Bupati Ciamis Yana D Putra.

Sumber: detik.com