Kiai Said Jelaskan Empat Etika Dakwah dalam Islam yang Perlu Dipegang -->
Cari Berita

Advertisement

Kiai Said Jelaskan Empat Etika Dakwah dalam Islam yang Perlu Dipegang

Redaksi
Sabtu, 01 Februari 2020

Assalaf.id - Dalam mengajak umat agar betul-betul menjadi muslim atau muslimah yang baik, ada etika, metode, dan strategi yang perlu ditaati.

"Zaman Nabi Muhammad, para ulama sampai Wali Songo dalam mendakwahkan, menyampaikan agama Islam, berangkat dari akhlakul karimah. Tutur kata yang baik, pergaulan yang baik, menyikapi perbedaan dengan santun. Itu yang dilakukan oleh para Wali Songo, ulama-ulama kita," ungkap Kiai Said.

Demikian diungkapkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj dalam acara Rosi di Kompas TV bertajuk "94 Tahun NU: Politik, Guyon dan Sarung," Kamis, (30/1) malam.

Intelektual Muslim asal Kempek, Cirebon, Jawa Barat ini menegaskan bahwa dalam ajaran Islam tidak ada bunyi bully-an, apalagi caci-maki dan memfitnah. Jauh dari itu semua.

"Karena apa? Karena misalkan, saya mengajak orang masuk Islam atau mengikuti Islam dengan cara yang kasar, malah nanti orang jadi lari dari Islam itu sendiri. Jadi alergi atau ngeri menjadi Islam itu sendiri. Tapi kalau menyampaikannya itu dengan baik, orang akan simpati," jelasnya.

Lebih lanjut, penulis buku Tasawuf Sebagai Kritik Sosial menyampaikan, mengedepankan Islam sebagai Inspirasi bukan Aspiras (2006) ini menegaskan bahwa dalam filosofi syariat Islam, menyampaikan syariat Islam itu ada empat hal yang perlu dipegang.

"Satu, bit-tadrij, step by step, gradual. Kedua, taklilut-taklif, memperkecil, meminimalisir beban; ketiga, 'adamul jarh, tidak menyakiti; keempat, almas-uliyyah, bertanggungjawab. Artinya, kalau kita menjalankan syariat Islam itu, hendaknya lahir dari kita sendiri. Bukan dipaksa," tutur pria kelahiran 3 Juli 1953 ini menjelaskan.

"Yang namanya mencaci maki itu dilarang oleh Al-Quran," ungkapnya, dengan mengutip ayat Al-Qur'an Surat Al-Hujurat 11. "Tidak boleh saling mencaci-maki, meremahkan, mencela, memanggil dengan panggilan (yang) tidak menyenangkan. (misalnya) 'hei, cebol, sini!', nggak boleh itu. Itu Qur'an itu," imbuhnya, memberi perumpamaan.

Tak hanya itu. Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, itu juga mengutip Al-Qur'an Surat Al-Hujurat 12, yang mengingatkan agar kita tidak boleh suudzan (negative thingking), mengintip-intip kesalahan orang lain, serta menggunjing. "Tidak boleh saling menggunjing kesalahan orang lain, kejelekan orang lain. Di Qur'an ada itu," pungkasnya.

Selain KH Said, dalam acara ini Rosi juga mengundang sejumlah narasumber. Di antaranya adalah Gus Reza Ahmad Zahid, Inayah Wahid, Savic Ali dan Mohamad Nabil Harun. Tampak hadir juga Sejken PBNU H. Helmi Faishal Zaini, ketua PBNU H Robikin Emhas, dan puluhan para santri yang menjadi audiens dalam talk show tersebut.

Sebelumnya, Sastro Adi dari PP Lesbumi PBNU mengawali acara ini dengan sebuah lagu yang menggugah semangat perjuangan berjudul Senandung Saptawikrama, diiringi suara piano dan bacaan puisi yang memesona.

Sumber: NU Online