Hukum Operasi Kel4min adalah Haram Karena Merubah Ciptaan Allah -->
Cari Berita

Advertisement

Hukum Operasi Kel4min adalah Haram Karena Merubah Ciptaan Allah

Redaksi
Kamis, 13 Februari 2020

Assalaf.id - Bagaimana hukumnya seseorang yang ganti kelamin dari sudut pandang ajaran Islam. Apakah diperbolehkan? Bila demikian, apakah ada dalilnya?”

Untuk menjawab masalah ini, tim Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Jawa Timur, telah memberikan penjelasan berkait masalah keumatan tersebut.

Berikut Hasil Bahtsul Masail PWNU Jatim pada 1989 di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Pertanyaan:
Seorang laki-laki atau perempuan yang normal, dalam arti alat kelamin luarnya dan dalam tidak ada kelainan, lalu karena sesuatu hal dia minta dioperasi agar kelamin luarnya dirubah menjadi jenis kelamin yang berbeda atau berlawanan dengan jenis kelaminnya yang dalam. Bagaimana hukumnya?

Jawaban:
Hukumnya adalah haram sebab termasuk mengubah ciptaan dari Allah dan mengecoh orang lain.
Dasar Pengambilan Hukum:

1. Tafsir al-Jami'i li Ahkam al-Quran li al-Qurthubi, Juz III, Hlm. 1963

قَالَ اَبُوْ جَعْفَرٍ الطَّبَرِى: حَدِيْثُ ابْنِ مَسْعُوْدٍ دَلِيْلٌ عَلَى اَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ تَغْيِيْرُ شَيْئٍ مِنْ خَلْقِهَا الَّذِىْ خَلَقَهَا اللهُ عَلَيْهِ بِزِيَادَةٍ اَوْ نُقْصَانٍ الى ان قال قَالَ عِيَاضٌ: وَيَأْتِىْ عَلَى مَاذَكَرَهُ اَنَّ مَنْ خُلِقَ بِاُصْبُعٍ زَائِدَةٍ اَوْ عُضْوٍ زَائِدٍ لاَ يَجُوْزُ لَهُ قَطْعُهُ وَلاَ نَزْعُهُ مِنْ تَغْيِيْرِ خَلْقِ اللهِ اِلاَّ اَنْ تَكُوْنَ هَذِهِ الزَّوَائِدُ تُؤْلِمُهُ فَلاَ بَأْسَ بِنَزْعِهَا عِنْدَ اَبِىْ جَعْفَرٍ وَغَيْرِهِ.

"Berkata Abu Ja’far, Hadis Ibnu Mas’ud itu menunjukkan bahwa tidak boleh merubah sesuatu yang sudah diciptaka Allah baim dengan cara menambahi atau mengurangi. Sampai pada ungkapan mushannif, berkata Iyadl. Bahwa sesungguhnya seseorang yang telah diciptakan dengan jari yang lebih atau angota yang lebih, ia tidak boleh memotongnya atau merubah sesuatu yang telah diciptakan Allah, kecuali apabila hal itu menyakitkan. Maka memtong atau merubahnya hukumnya tidak apa apa".

2. Tafsir al-Munir, Juz I, Hlm. 174

(وَقَالَ) اَىْ الشَّيْطَانُ عِنْدَ ذَلِكَ (لأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيْبًا مَفْرُوْضًا) اَىْ َلأَجْعَلَنَّ لِىْ مِنْ عِبَادِكَ حَظًّا مُقَدَّرًا مُعَيَّنًا وَهُمُ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ خُطُوَاتِ اِبْلِيْسَ وَيَقْبَلُوْنَ وَسَاوِسَهُ الى ان قال (وَلآَمُرَنَّهُمْ) بِالتَّغْيِيْرِ (فَلَيُغَيِّرَنَّ خَلْقَ اللهِ) صُوْرَةً اَوْصِفَةً كَإِخْصَاءِ الْعَبِيْدِ وَفِقْءِ الْعُيُوْنِ وَقَطْعِ اْلأَذَانِ وَالْوَشْمِ وَالْوَشْرِ وَوَصْلِ الشَّعْرِ فَاِنَّ الْمَرْأَةَ تَتَوَصَّلُ بِهَذِهِ اْلأَفْعَالِ اِلَى الزِّنَا، وَكَانَتِ الْعَرَبُ اِذَا بَلَغَتْ اِبِلُ اَحَدِهِمْ اَلْفًا عَوَّرُوْا عَيْنَ فَحْلِهَا. وَيَدْخُلُ فِى هَذِهِ اْلآَيَاتِ التَّخَنُّثَ وَالسَّحَاقَاتِ ِلأَنَّ التَّنَخَنُّثَ عِبَارَةٌ عَنْ ذَكَرٍ يُشْبِهُ اْلاُنْثَى وَالسَّحَقُ عِبَارَةٌ عَنْ اُنْثَى تُشْبِهُ الذَّكَرَ. وَعُمُوْمُ اللَّفْظِ يَمْنَعُ الْخَصَاءَ مُطْلَقًا لَكِنِ الْفُقَهَاءُ رَخَّصُوْا فِى الْبَهَائِمِ لِلْحَاجَةِ فَيَجُوْزُ لِلْمَأْكُوْلِ الصَّغِيْرِ وَيَحْرُمُ فِى غَيْرِهِ. اهـ

"(Dan syaitan itu mengatakan: "Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan untuk saya) yakni syetan berkata: Saya akan menjadikan bagian tertentu untuk saya dari hamba-hambaMu yang telah mengikuti langkah-langkah iblis dan menerima bisikannya (dan akan aku suruh mereka merobah ciptaan Allah) baik bentuk ataupun sifat, seperti mengebiri budak, menusuk mata, memotong telinga, bertato, meratakan gigi dan menyambung rambut. Sebab wanita melakukan hal tersebut untuk berbuat zina. Tadisi orang Arab bila untanya telah mencapai seribu ekor, mereka menusuk mata pejantannya. Dan termasuk dalam kategori ayat ini adalah menyerupai laki-laki dan menyerupai perempuan, sebab keduanya ada upaya penyerupaan dengan lawan jenis. Dari segi keumuman ayat ini melarang semua jenis mengebiri, tetapi ulama fikih memberi keringanan dalam hewan ternak, yaitu boleh bagi hewan kecil yang halal dimakan, dan untuk hewan yang lainnya haram".

3. Tafsir al-Khazin, Juz I, Hlm. 405

قَوْلُهُ تَعَالَى (وَلآَمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرَنَّ خَلْقَ اللهِ) قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَعْنِى دِيْنَ اللهِ وَتَغْيِيْرَ دِيْنِ اللهِ، وَتَحْلِيْلَ الْحَرَامِ وَتَحْرِيْمَ الْحَلاَلِ وَقِيْلَ تَغْيِيْرُ خَلْقِ اللهِ تَغْيِيْرَ الْفِطْرَةِ الَّتِى فَطَرَ الْخَلْقَ عَلَيْهَا الى ان قال وَقِيْلَ: يَحْتَمِلُ اَنْ يُحْمَلَ هَذَا التَّغْيِيْرُ عَلَى تَغْيِيْرِ اَحْوَالٍ تَتَعَلَّقُ بِظَاهِرِ الْخَلْقِ مِثْلَ الْوَشْمِ وَوَصْلِ الشَّعْرِ وَيَدُلُّ عَلَيْهِ قَوْلُهُ e لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسَتَوَشِّمَاتِ وَالْمُتَنَصِّمَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ، اَخْرَجَهُ مِنْ رِوَايَةِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ وَلَهُمَا عَنْ اَسْمَاءَ قَالَتْ: لَعَنَ النَّبِىُّ e الْوَاصِلَةَ وَالْمُتَوَصِّلَةَ، وَقِيْلَ: تَغْيِيْرُ خَلْقِ اللهِ هُوَ اْلاِخْتِمَاءُ وَقَطْعُ بَعْضِ اْلآَذَانِ حَتَّى اَنَّ بَعْضَ الْعُلَمَاءِ حَرَّمَهُ، وَكَرَّهَ اَنَسٌ اِخْصَاءَ الْغَنَمِ وَجَوَّزَهُ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ ِلأَنَّ فِيْهِ غَرَضًا ظَاهِرًا

"(Dan akan aku suruh mereka merobah ciptaan Allah) Ibnu Abbas berkata: Yakni merubah agama Allah, menghalalkan sesuatu yang haram dan mengharamkan sesuatu yang halal. Ada yang mengatakan merubah ciptaan Allah secara fitrahnya yang telah ditentukan.... ada yang mengatakan maksud ayat ini adalah merubah perilaku yang tampak secara dzahir, seperti tato dan menyambung rambut. Hal ini sesuai dengan hadis: Allah melaknat wanita yang berkerja sebagai pembuat tato dan yang bersedia diberi gambar tato, orang yang menghilangkan rambut di wajahnya, oran yang meratakan giginya untuk terlihat lebih cantik yang merubah ciptaan Allah. Hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud. Dalam riwayat Bukhari-Muslim dari Asma’ (binti Abi Bakar): Rasulullah Saw melaknat wanita yang menyambung rambut dan penyambungnya. Ada yang mengatakan yang dimaksud dengan merubah ciptaan Allah adalah mengebiri dan memotong sebagian telinga, sehingga menurut sebagian ulama hal tersebut hukumnya adalah haram. Anas tidak senang dengan mengebiri kambing. Dan sebagian ulama memperbolehkannya karena memiliki tujuan yang nyata".

Masalah ini pun pernah dibicarakan dalam sebuah Muktamar Nahdlatul Ulama.