Gus Baha: Ngaji Harus Pakai Kitab Bersanad, Jangan Berani Ngomong Tafsir Menurut Saya!
Cari Berita

Advertisement

Gus Baha: Ngaji Harus Pakai Kitab Bersanad, Jangan Berani Ngomong Tafsir Menurut Saya!

Redaksi
Sabtu, 29 Februari 2020

Assalaf.id - Orang bisa melaksanakan (contoh) shalat sangat tidak mungkin berpedoman langsung kepada Al-Qur’an dan Hadits. Dari belajar syarat-syaratnya (syarat diwajibkannya shalat dan syarat sahnya shalat), rukun-rukunya, batal-batalnya dan seterusnya. Kitab kuning adalah pedoman belajar bagaimana shalat sesuai syarat, rukun dan batal-batalnya.

Berpedoman kepada kitab kuning yang ditulis oleh para ulama berarti sudah berpedoman kepada Al-Quran dan Hadits. Karena para ulama menulis kitab kuning sudah pasti berdasarkan kepada Al-Qur’an dan Hadits secara manshushah atau ghairu manshushah. Selain itu, dengan berpedoman kepada kitab para ulama, sanad belajar agama menjadi jelas.

Tentang sanad belajar agama, Gus Baha’ bepersan, “Tirulah Mbah Moen dan orang-orang saleh. Se’alim-‘alimnya Mbah Moen, kalau mengajar masih memakai kitab”.

Gus Baha’ pun meski dijuluki ‘alim ‘allamah tetap menggunakan kitab kuning dalam belajar dan mengajarkan ilmu agama. “Paling tidak seperti saya ini. Kamu bisa ingat. Ini kitab dikarang Sayyid Muhammad. Sayyid Muhammad guru dari putra-putranya Mbah Moen. Sanadnya jelas”

Gus Baha’ juga menjelaskan sanad keilmuan Sayyid Muhammad, “Beliau (Sayyid Muhammad) memaklumatkan bahwa kitab ini adalah kesimpulan dari al-Itqan. Pengarangnya adalah Abah saya. Sayyid Muhammad juga fair, ini bukan karangan saya, tapi Abah saya, Sayyid Abbas. Jadi dulu, ini memang karangannya Sayyid Abbas, ketika zumdat al-itqan. Terus, era Sayyid Muhammad dimodifikasi jadi al-Qawa’id al-Asasiyyah.  Beliau cerita sanadnya. Di kitab ini beliau carita sanadnya bahwa sampai kepada Imam Suyuthi. Imam Suyuthi cerita sandanya sampai kepada Rasulullah. Kan jelas ini pendapat siapa, ini versi siapa. Dan ini versi beliau”

Terlebih belajar dan mengajarkan Al-Quran, sanad harus menjadi kebutuhan dalam belajar dan mengajarkan Al-Quran. Jangan sampai menjelaskan Al-Quran menggunakan pendapat sendiri. Kitab yang ditulis para ulama kredibel merupakan sanad keilmuan bagi kita. Dawuh Gus Baha’, “Tapi kalau tanpa kitab, seperti mengajarkan Al-Quran kok menurut saya. Kamu mau mengkaji Al-Quran atau mengkaji menurut saya? Jangan berani ngomong tafsir menurut saya”

Di saat berdiskusi atau berdebat sekalipun, harus ada referensi atau kitab rujukan. Jangan bergaya seperti layaknya seorang mujtahid. “Orang debat agama kok gak ada referensi, tidak ada kitabnya, selalu bilang menurut saya. Memangnya Anda penting dalam… wali tidak, ulama tidak, kok debat agama bilang menurut saya. Memangnya Anda mujtahid? Harusnya tidak begitu. Menurut kitab yang saya baca dalam dalam madzhab Syafi’i kitab ini begini. Yang satu ya bantah dalam madzhab Maliki kitabnya ini. Itu baru keren”

Lebih tegas Gus Baha’ berpesan, “Makanya dibiasakan pakai referensi, pakai sanad. Agama ini butuh sanad. Lihat di muqaddimah Shahih Muslim, agama ini ilmu, ilmu ini agama. Maka lihatlah ilmu itu, kamu ambil dari mana. Karena tanpa sanad bahaya”[aswajadewata.com]