Ditanya Wartawan Soal Gagasan Negara Islam di Indonesia, Jawaban Gus Baha Mencengangkan -->
Cari Berita

Advertisement

Ditanya Wartawan Soal Gagasan Negara Islam di Indonesia, Jawaban Gus Baha Mencengangkan

Redaksi
Selasa, 11 Februari 2020

Assalaf.id - Ulama asal Desa Narukan Kecamatan Kragan, Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Baha’ memberikan pandangannya terhadap gagasan negara Islam di Indonesia.

Saat pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rembang, silaturahmi ke kediaman Gus Baha’, Senin malam (10/02), pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA (Lembaga Pembinaan Pendidikan Pengembangan Ilmu Alqur’an) tersebut berpendapat pembentukan negara Islam di Indonesia mungkin bagus, tapi prosesnya menuju kesana dikhawatirkan akan berdarah-darah. Daripada seperti itu, lebih baik mengawal syariat Islam secara kultural.

“Hasilnya nggak mesti, tapi berdarah-darah mesti. Daripada seperti itu lebih baik mengawal syariat secara kultural. Hal itu sudah dipikir oleh wali-wali sejak dulu, “ terangnya.

Tidak hanya diskusi tentang hal-hal serius, tetapi Gus Baha’ juga menyelingi dengan candaan khasnya. Sempat muncul pembahasan bagaimana hukumnya wartawan memberitakan peristiwa jelek yang menimpa seseorang. Kemudian ada pendapat dari seorang wartawan, apakah perlu mewujudkan berita syariah ?

Gus Baha’ pun tertawa. Ia mengingatkan kalau sudah mengatasnamakan syariah, tapi ternyata tidak syariah, justru akan terjadi pembohongan.

“Kaidahnya begini, agama itu tidak pernah menghalalkan yang haram, ya nggak pernah mengharamkan yang halal, “ ungkap Gus Baha’.

Gus Baha’ menimpali aktivitas maupun pekerjaan yang digeluti seseorang tidak bisa dipandang hanya dari sisi halal atau haram. Untuk menjadi haram tidak hanya dari profesi yang haram. Halal pun kalau meninggalkan kewajiban yang lebih penting, tetap akan mendatangkan dosa.

“Contohnya saya jagongan sama jenengan, tapi semisal ibu saya koma di IGD. Saya nerima seperti ini juga haram, karena memprioritaskan sesuatu yang nggak penting, mengalahkan yang super penting, “ imbuh Gus Baha’.

Ulama yang biasa mengenakan peci hitam dan baju putih ini menambahkan profesi wartawan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Tapi kala itu sebagai penyair atau telik sandi yang ditugaskan untuk menyampaikan informasi seberapa kekuatan lawan.

Ketua PWI Kabupaten Rembang, Musyafa Musa menjelaskan pihaknya datang silaturahmi, karena pada momentum Hari Pers Nasional (HPN) ke-74 ingin menambah ilmu untuk mewujudkan organisasi yang lebih bermartabat. Ia merasakan obrolan dengan Gus Baha’ selama 1,5 jam memperluas cakrawala berpikir tentang banyak hal.

“Mulai kesederhanaan, hingga ketegasan. Saya belajar banyak ketika beliau berbicara dan menyampaikan kajian dari perspektif Islam. Tentu bagi wartawan yang mewakili mata dan telinga masyarakat, pandangan Gus Baha’ relevan diklopkan dengan aktivitas kita, “ tandasnya. (Musyafa Musa).

Sumber: r2brembang.com