Imam Besar Istiqlal: Ada NU dan Muhammadiyah, Intoleransi Tak Laku -->
Cari Berita

Advertisement

Imam Besar Istiqlal: Ada NU dan Muhammadiyah, Intoleransi Tak Laku

Redaksi
Rabu, 01 Januari 2020

Assalaf.id - Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar optimistis selama ormas terbesar di tanah air, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah masih solid, berbagai upaya yang mengarah ke gerakan intoleransi tak akan laku. Sebab kedua ormas tersebut selalu mengedepankan persatuan.

"Selama masih ada NU, ada Muhammadiyah, tidak akan pernah ada yang bisa mengacak-acak Indonesia," kata Nasaruddin dalam tayangan Blak-blakan di detik.com, Rabu (1/1/2020).

Meski demikian, Nasaruddin berharap umat Islam tetap waspada karena kini muncul kelompok-kelompok kecil yang berusaha memprovokasi mainstream muslim Indonesia. Ia berharap muslim Indonesia tidak membuka celah yang memungkinkan masuknya intervensi dari luar.

"Sedikit-sedikit bid'ah, sedikit-sedikit musyrik dan kafir. Tadinya Maulid yang kita peringati ratusan tahun tiba-tiba bid'ah. Kita harus hati-hati siapa dibaliknya. Itu bukan (gerakan) pemurnian," sambungnya.

Sikap tersebut, menurut Nasaruddin, justru bertentangan dengan Arab Saudi yang mulai memasukan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai hari libur nasional.

Wakil Menteri Agama periode 2011-2014 itu juga optimistis masyarakat Indonesia semakin cerdas dan tidak akan mudah terprovokasi dengan ujaran kebencian dan intoleransi yang sempat marak saat pilpres dan pilkada serentak pada 2019. Selain itu, masyarakat juga akan meninggalkan berita-berita yang berdasarkan data tidak valid.

"Semakin cerdas masyarakat itu, semakin filternya semakin kuat. Semakin gak laku viral-viral yang destruktif itu. Coba kita lihat ada gak tokoh-tokoh viral yang hebat?" kata Nasaruddin.

Setiap pengujar kebencian yang tidak bersumber pada fakta kebenaran, ia menegaskan, itu ibarat menggali kuburnnya sendiri. Tetapi sebaliknya jangan bermain-main dengan orang yang selalu konsisten dengan data yang benar.

"Jangan mencoba-coba membangun sebuah mahligai di atas landasan yang batil. Itu pasti roboh, kursinya akan rontok," sambungnya.

Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah ini juga menyoroti soal kebinekaan pada masyarakat Indonesia yang merupakan negeri maritim. Di masyarakat maritime, kata dia kecenderungannya lebih bersifat egaliter dibanding masyarakat kontinental. Dalam masyarakat maritim itu dimana ada pulau, orang bebas menyandarkan perahu, bebas mengambil air tawar di sungai.

"Kenapa Nabi itu turun di masyarakat kontinental, tidak ada Nabi yang turun di masyarakat maritim. Kita di sini tidak ada Nabi, cukup ustaz. Tapi masya Allah lebih santun dari orang-orang langganan nabi di sana,"sambungnya.

Untuk itu, Nasaruddin menyebut isu intoleransi di Indonesia pasti bertentangan dengan karakter masyarakat maritim yang lebih mengedepankan pertemuan bukan perbedaan. Menurutnya, intoleransi tidak akan menjadi jualan yang menarik pada masyarakat Indonesia yang mengedepankan aspek perjumpaan.

Sumber: NU Online