Gus Dur, Panjenengan Itu Siapa Sih? -->
Cari Berita

Advertisement

Gus Dur, Panjenengan Itu Siapa Sih?

Redaksi
Minggu, 29 Desember 2019

Assalaf.id - Pada tahun 1999, Al-Zastrouw Ng menulis sebuah buku berjudul, "Gus Dur Siapa sih Sampeyan?" Buku setebal 290 halaman ini berusaha menafsirkan sejumlah tindakan dan pernyataan Gus Dur atau Dr. K. H. Abdurrahman Wahid. Seperti apa sosok Gus Dur yang wafat 30 Desember 2009 lalu itu?

Gus Dur lahir pada 7 September 1940 di Jombang, Jawa Timur. Memiliki nama asli Abdurrahman Addakhil. Dia adalah putra sulung dari KH Wahid Hasyim dan cucu dari KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Dari pihak Ibu, Gus Dur merupakan cucu dari KH Bisyri Sansuri, pendiri Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, Jawa Timur.

Pendidikan dan karier

Gus Dur pertama kali belajar mengaji dengan sang kakek, KH Hasyim Asy'ari. Di usia 5 tahun, Gus Dur sudah bisa membaca Al-Qur'an. Selepas lulus sekolah Dasar, Gus Dur dikirim orang tuanya untuk sekolah di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Gowongan. Di saat yang sama dia juga ngaji di Pondok Pesantren Krapyak.

Saat itu Gus Dur memiliki kegemaran membaca yang luar biasa. Buku-buku karya Ernest Hemingway, John Steinbach, Will Durant, hingga buku Lenin berjudul What Is To be Done tamat dia baca.

Selesai dari SMEP, Gus Dur melanjutkan ke Pondok Pesantren Tegal Rejo, Magelang, Jawa Tengah selama 2 tahun lalu ke Pondok Pesantren Tambak Beras di Jombang. Di usia 22 tahun, Gus Dur diberangkatkan untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

Setelah itu Gus Dur dikirim belajar ke Al Azhar University, Cairo, Mesir, Fakultas Syari'ah (Kulliyah al-Syari'ah) dari tahun 1964 sampai 1966 , lalu ke Universitas Baghdad, Irak, Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab pada 1966 hingga 1970.

Kembali ke tanah air, Gus Dur tak lantas berkiprah di Kepengurusan Nahdlatul Ulama yang didirikan sang kakek. Baru pada 1984 suami dari Sinta Nuriyah itu berkiprah di NU hingga menjabat Ketua Dewan Tanfidz sampai tahun 2000.

Pada tahun 1999, Gus Dur terpilih sebagai Presiden ke-4 RI menggantikan Bacharuddin Jusuf Habibie. Gus Dur menjabat hingga tahun 2001. Dia dikenal sebagai presiden yang humanis dan juga humoris. Tak heran jika hingga saat ini banyak buku-buku yang tentang koleksi humor ala Gus Dur.

Banyak kesaksian tentang sikap humoris Gus Dur. Putra sulung KH Wahid Hasyim ini pun kerap melontarkan kritikan dengan joke-joke segar. Bahkan ketika dikritik pun dia tetap bisa membalasnya dengan jenaka. Misalnya di bulan-bulan pertama menjadi presiden, ada sekelompok orang menggelar unjuk rasa di depan Istana mendesak Gus Dur mundur.

"Presiden Gus Dur mundur! Mundurrrr...!" teriak pendemo dari luar pagar Istana.

Suara pendemo itu terdengar oleh Gus Dur. Di lain kesempatan, Gus Dur pun menanggapi tuntutan tersebut. "Sampeyan ini bagaimana. Saya maju saja harus dituntun kok malah disuruh mundur," kata Gus Dur seperti dikutip detikcom dari buku, Gus Dur Kisah-kisah Jenaka dan pesan-pesan Keberagaman karya Marwini.

Intelektual Publik

Tidak hanya hobi membaca, Gus Dur juga sering menulis beberapa naskah dan mengirimkannya ke bagian penerbit buku. Gus Dus aktif di organisasi NU dan menjadi anggota LSM tentang hak asasi manusia. Beliau juga sering menulis dalam kolom-kolom di majalah dan koran ternama di Indonesia.

Tahun 1971, ia mulai bekerja di Lembaga Pengkajian Pengetahuan, Pendidikan, Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Tahun 1972, aktif berkeliling dan menjadi pencermaha serta mengisi seminar ilmiah dan menulis di kolom majalah hingga koran. Tahun 1978, mulai terlibat dalam lingkaran intelektual muslim progresif dan 1980-an bersama dengan Nurcholis Madjid dan Djohan Effendi ia mulai dikenal publik sebagai tokoh-tokoh muda penganjur pembaruan pemikiran Islam.

Tak Hanya Presiden dan Kiai

Saat menghadiri Haul ke-10 suaminya di Surabaya, Jawa Timur pekan lalu, Sinta Nuriyah mendapati sebuah fakta bahwa tidak banyak orang yang benar-benar mengenal Gus Dur. Kebanyakan dari mereka mengenal Gus Dur sebagai Presiden ke-4 Indonesia atau seorang kiai.

"Lebih dari itu banyak tidak ada yang mengenal Gus Dur siapa?" kata Sinta saat memberikan sambutan Haul ke-10 Gus Dur di Ciganjur pada Sabtu, 28 Desember 2019 pekan lalu.

Padahal selain seorang politikus, presiden dan kiai, Gus Dur juga seorang yang demokratis, humanis dan humoris. "Dan satu lagi Gus Dur adalah seorang budayawan. Terbukti dulu Gus Dur pernah menjabat sebagai Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Itu menunjukkan Gus Dur seorang budayawan," sambung Sinta.

Kiranya setelah Haul ke-10 Gus Dur dan penjelasan dari Sinta Nuriyah Wahid tak ada lagi pertanyaan, Gus Dur Panjenengan Siapa Sih?

Sumber: detik.com