Makruh Hukumnya Shalat Tanpa Penutup Kepala Bagi Lelaki -->
Cari Berita

Advertisement

Makruh Hukumnya Shalat Tanpa Penutup Kepala Bagi Lelaki

Assalaf
Kamis, 14 November 2019

Assalaf.id - Perlu untuk diketahui, dalam shalat, selain Rukun yang wajib dilaksakan seperti niat, membaca Al-Fatihah, ruku’, dan lain sebagainya, ada lagi perbuatan tambahan yang sifatnya sunnah. Sebagian ulama berpendapat sunnah lawan daripada makruh.

Jika ada perbuatan sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan, maka meninggalkannya mendapat hukum makruh. Akan tetapi wajah(pendapat) Ulama yang kuat menyatakan tidak demikian. Meninggalkan sunnah tidak otomatis makruh kecuali ada dalil atau indikasi-indikasi tertentu.

Disebutkan dalam Kitab Tuhfatul Muhtaj libni Hajar al-Haitami:

قُلْت يُكْرَهُ) لِلْمُصَلِّي الذَّكَرِ وَغَيْرِهِ تَرْكُ شَيْءٍ مِنْ سُنَنِ الصَّلَاةِ وَفِي عُمُومِهِ نَظَرٌ وَاَلَّذِي يَتَّجِهُ تَخْصِيصُهُ بِمَا وَرَدَ فِيهِ نَهْيٌ أَوْ خِلَافٌ فِي الْوُجُوبِ فَإِنَّهُ يُفِيدُ كَرَاهَةَ التَّرْكِ كَمَا صَرَّحُوا بِهِ فِي غُسْلِ الْجُمُعَةِ وَغَيْرِهِ
[تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي]

Artinya, “Saya (Imam Nawawi) berpendapat makruh hukumnya bagi orang shalat baik laki-laki maupun yang lainnya meninggalkan sesuatu dari sunnah-sunnah shalat. Namun secara umum hal ini masih ada pembahasan. Dan pendapat secara khusus bahwa hukum makruh berlaku jika ada dalil larangan atau bertentangan dengan wajib itu berarti kalau ditinggal bisa makruh sebagaimana dijelaskan para ulama pada bab mandi jum'at dan bab lain,” 
(Kitab Tuhfatul Muhtaj,  juz II, halaman 161).

Bagaimana dengan Penutup Kepala bagi laki-laki?
Tidak seperti wanita, Menutup kepala bagi orang laki-laki yang sedang  shalat bukanlah sebuah kewajiban. Sebab memang yang diwajibkan dalam shalat(aurat) untuk ditutup hanya mulai pusar sampai dengan lutut.

Walaupun tidak wajib, menutup kepala bagi lelaki merupakan salah satu dari sunnah-sunnah shalat. bahkan aktivitas ke toilet dan bersenggama dengan istri pun juga disunnahkanmemakai tutup kepala.

Oleh sebab itu, membiarkan kepala tetap terbuka tanpa penutup bagi laki-laki hukumnya makruh sebagaimana diterangkan dalam Kitab Fathul Mu’in dan syarahnya I’anatuth Thalibin.

قوله: وكشف رأس ومنكب) أي وكره كشف رأس ومنكب لأن السنة التجمل في صلاته بتغطية رأسه وبدنه كما مر

Artinya, “Dimakruhkan membiarkan kepala dan bahu terbuka, karena sunnahnya tajammul(beretika) dalam shalat dengan cara menutup kepala dan dan badan sebagaimana penjelasan yang sudah lalu” (Kitab I’anatuth Thâlibin, juz I, halaman 226).

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa memakai penutup kepala saat shalat dengan peci, kopyah, sorban ataupun lainnya hukumnya adalah sunnah, sebaliknya membuka kepala pada saat shalat hukumnya makruh. Wallahu a’lam bisshawab.