Solusi Tepat Mengganti Shalat yang Ditinggalkan Bertahun-tahun -->
Cari Berita

Advertisement

Solusi Tepat Mengganti Shalat yang Ditinggalkan Bertahun-tahun

Assalaf
Rabu, 20 November 2019

Assalaf.id - Orang yang telah mukallaf yaitu sudah baligh dan berakal sehat maka wajib untuk melaksanakn shalat 5 waktu, sehingga jika meninggalkan shalat sekalipun maka ia wajib mengqadla(mengganti)nya.

Namun masalahnya andai pernah meninggalkan shalat bertahun-tahun bagaimana solusinya:

Pertama, orang yang bersangkutan harus bertaubat dan memperbanyak istighfar karena telah meninggalkan kewajiban yang diwajibkan oleh Allah Swt.

Kedua , terkait jumlah shalat yang wajib dia qadla’. Dia wajib men-qadla’ semua shalat yang pernah ditinggalkan, seperti jika ia ingat pernah meninggalkan shalat 5 waktu selama 5 yahun maka ia harus mengqadla shalat 5 waktu selama 5 tahun, jika ia pernah meninggalkan shalat dzuhur saja selama setahun maka ia wajib mengqadla shalat dzuhurnya sebanyak yang ditinggalkan itu, namun bagaimana jika lupa jumlahnya? Ia tetap wajib men-qadla’ atau melakukan shalat lagi sebagai pengganti shalat yang ditinggal, hingga ia yakin sudah tidak ada lagi shalat yang belum ia qadla’. Sebagaimana disebutkan dalam Kiatb Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib Al-Arba’ah:

من عليه فوائت لا يدري عددها يجب عليه أن يقضي حتى يتيقن براءة ذمته، عند الشافعية، والحنابلة؛ وقال المالكية، والحنفية: يكفي أن يغلب على ظنه براءة ذمته

Artinya: “Seseorang yang mempunyai tanggungan(meninggalkan) shalat dan dia tidak tahu jumlahnya, maka dia wajib meng-qadla’ hingga yakin tanggungannya sudah terpenuhi, ini menurut mazhab Syafi’i dan Hanbali. Sedangkan menurut mazhab Maliki dan Hanafi cukup dengan adanya dugaan kuat(jumlah shalat yang ditinggalkan), meski tidak sampai taraf yakin”

Ketiga, waktu men-qadla’. Mayoritas ulama’ yang berpendapat bahwa seorang yang meninggalkan shalat tanpa udzur tidak boleh melakukan apapun selain meng-qadla’ shalat yang mana seluruh waktunya harus digunakan untuk mengerjakan qadla shalat, ia hanya diperbolehkan melakukan aktifitas lain untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarganya. Hal ini sangat berat dilakukan kebanyakan orang. Namun, ada pendapat(ijtyihad) dari Al-Imam Abdullah Al-Haddad yang bisa dijadikan solusi. Sebagaimana termaktub dalam Kitab Bughyah al-Musytarsyidin:

ومن كلام الحبيب القطب عبد الله الحداد : ويلزم التائب أن يقضي ما فرط فيه من الواجبات كالصلاة والصوم والزكاة لا بد له منه ، ويكون على التراخي والاستطاعة من غير تضييق ولا تساهل –إلى أن قال- وهذا كما ترى أولى مما قاله الفقهاء من وجوب صرف جميع وقته للقضاء ، ما عدا ما يحتاجه له ولممونه لما في ذلك من الحرج الشديد

Artinya: “Sebagian dawuh Al-Habib Abdullah Al-haddad: seseorang yang taubat wajib meng-qadla’ kewajiban shalat, puasa, zakat yang pernah ia tinggalkan. Kewajiban ini dilakukan tidak harus secepatnya, semampunya. sehingga ia tidak merasa sulit dan keberatan, namun juga tidak boleh sampai menganggap remeh. Pendapat ini -seperti yang anda lihat- lebih utama dari pendapat ulama yang mengatakan tidak boleh melakukan apapun selain men-qadla’ shalat, ia hanya diperbolehkan melakukan aktifitas lain untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarganya. Karenaberatnya melakukan”

Maka berdasarkan pendapat ini, ia tidak harus menghabiskan seluruh waktunya untuk men-qadla’, ia cukup men-qadla’ semampunya, namun tidak sampai mengangap remeh tanggungan tersebut, karena jika meninggal dan masih mempunyai tanggungan shalat ia akan dimintai pertanggung jawaban diakhirat.

Jika lelah, ia boleh beristirahat dan melanjutkannya ketika sudah kuat kembali.

Keempat, cara men-qadha’. Cara men-qadla’ shalat adalah dengan melakukan shalat seperti biasa, namun ada tambahan 'Qadla' dalam niat, tergantung shalat apa yang akan di-qadla‘. Contoh niat shalat qadha’ adalah sebagaimana berikut:

أُصَلِّي فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثلاث رَكعَاتٍ قَضَاءً لله تَعَالَى

Keempat, waktu men-qadla’ tidak terikat waktu. Men-qadha’ salat ashar dapat dilakukan di waktu dzuhur atau waktu yang lain.

Wallahu A'lam bisshawab.